Bursa komoditas online untuk pedagang dan petani Jatim
Rabu, 16 September 2009 | 19:20 wib ET
SURABAYA - Untuk mendongkrak pemasaran para petani dan pedagang yang menyewa tempat di Pasar Induk Agribisnis (PIA) Jemundo, Jawa Timur, pihak pengelola pasar induk agribisnis terbesar di Indonesia itu akan menambah fasilitas bursa komoditas online.
"Jadi, nanti ada bursa komoditas online. Para petani dan pedagang tidak hanya bisa menawarkan apa yang dimilikinya, tapi juga bisa menawarkan milik mitranya asalkan sudah ada kesepakatan," ujar Dirut PT Jatim Grha Utama (JGU) Erlangga Satriagung menjawab kabarbisnis.com di Surabaya, Rabu (16/9/09). JGU merupakan pengelola PIA Jemundo.
Dengan sistem online tersebut, kata dia, perkembangan bisnis para petani dan pedagang akan semakin besar. "Jadi, jangkauan pasar mereka bisa lebih luas," ujar Erlangga.
2010, empat blok PIA mulai beroperasi
Para pelaku usaha agribisnis Jatim bakal segera mempunyai Pasar Induk Agribisnis (PIA) yang terpusat dan efektif dalam membantu pemasaran mereka.
Pembangunan dua blok di Pasar Induk Agribisnis (PIA) di Jemundo, Sidoarjo, Jatim yang sudah berjalan ditargetkan tuntas akhir tahun ini.
"Dua blok itu untuk grosir besar dan kecil," ujar Erlangga Satriagung.
Pada awal 2010, terang mantan ketua Kadin Jatim tersebut, akan dibangun dua blok lagi. Pihaknya menargetkan bisa rampung pada Maret 2010, sehingga pada April sudah bisa beroperasi. "Sehingga total 2009-2010 kami targetkan bisa menampung sekitar 2.500 pedagang. Kalau 2010 sudah jadi 4 blok, pembangunan PIA sudah mencapai 40%," jelasnya.
Dalam masa promosi, sampai akhir tahun ini, JGU akan mendiskon biaya sewa stan bagi para pedagang. "Harga standar per meter per hari Rp10.000. Tapi, untuk promosi Rp6.000 per meter per hari," ujarnya.
Dia mengatakan, dari 10 blok yang ada, diharapkan bisa rampung semua pada 2013. "2011 akan investor masuk, jadi 2013 bisa selesai," ujarnya.
Total lahan di PIA mencapai 50 hektare. Total nilai investasi mencapai Rp838 miliar. Pembiayaan berasal dari JGU dan investor, dengan komposisi 55%:45%.
"Banyak investor yang tertarik, kita masih penjajakan. Yang jelas ini investor lokal, dan kami hanya minta bantuan pembiayaan, bukan penyertaan. Sehingga, kepemilikan masih dimiliki oleh pemerintah daerah," tuturnya. kbc5
© Copyright 2008 kabarbisnis.com, under management by CV. Brilian Multimedia | Ketentuan Penggunaan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar